sawang sinawang. bahasa ini mengesankan ketidakpastian atau "kebelumtentuan" keadaan hidup seseorang. sawang sinayang bila diterjemahkan harafiah dan sederhana mungkin berarti liat keliatan. banyak yang memahaminya sebagai keadaan yang seperti itu namun belum tentu seperti itu. yang paling sering kalimat ini dipakai untuk menunjukkan bahwa seseorang yang kaya belum tentu kaya dan orang yang miskin belum tentu miskin. hm ini musti ditafsirkan lagi kayanya.... wah dalem dan susah banget deh bahasa jawa ini.
tapi kalau boleh saya mohon ijin untuk menyandingkan ungkapan ini dengan "gejala alam" yang menghiasi pingiran jalan di jogja, klaten dan solo bahkan kota-kota lainnya: angkringan. ada yang menyebutnya warung koboi, ada yang menyebutnya wct (warung ceret telu) atau apalah jenengan mau menyebutnya, monggo. namun rupanya gejala ini bukan hanya timbul sebagai reaksi kebanyakan masyarakat marginal atas ketidakmerataanya ekonomi makro. oalahhhh.. aku malah ga ngerti apa yang aku maksudkan qqq. tapi kurang lebih juga menjadi wahana turunnya priyayi yang memiliki rasa andhap asor, sumarah lan mrambah. wah mboh iki artinya apa.
namun betul koq, lha di angkringan itu ternyata banyak priyayi yang notabene bukan sembarang priyayi. lha kula niki sering diajak pak profesor ke angkringan jk ten kulon. dan tidak jarang nimbrung di warung koboi yang isinya mbahas keadaan politik yang extra berat itu.. qqq ntar sambung lagi deh